Pernah Dihujat Saat Sriwijaya FC Terpuruk, Mohammad David Tak Gentar Perjuangkan Kebangkitan Laskar Wong Kito

PALEMBANG, PalNews – Di tengah keterpurukan yang dialami Sriwijaya FC usai terdegradasi dari Liga 2 Pegadaian Championship musim 2025/2026, Wakil Presiden klub, Mohammad David, memilih tetap berdiri di garda terdepan memperjuangkan masa depan Laskar Wong Kito.

Kritik, hujatan, hingga cibiran yang sempat mengarah kepadanya akibat performa buruk Sriwijaya FC tak membuat David mundur. Sebaliknya, ia terus berupaya menjaga asa agar klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu tetap hidup dan mampu bangkit menghadapi kompetisi Liga Nusantara musim 2026/2027.

Musim lalu menjadi salah satu periode tersulit dalam sejarah Sriwijaya FC. Krisis finansial yang melanda klub berdampak pada performa tim di lapangan hingga akhirnya harus menerima kenyataan terdegradasi. Di tengah situasi tersebut, manajemen masih berjuang mencari investor yang bersedia membantu menyelamatkan klub yang telah berdiri sejak 2004 itu.

Sebagai bentuk komitmen bahwa Sriwijaya FC masih ada dan terus berjuang, manajemen menggelar aksi bertajuk “Misi Penyelamatan Sriwijaya FC” dengan membagikan ratusan kaus kepada masyarakat dan pengguna jalan di kawasan Simpang Lampu Merah DPRD Sumatera Selatan, Palembang, Jumat (24/7/2026) sore.

Aksi sosial tersebut turut dihadiri legenda Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu, jajaran manajemen, serta tiga kelompok suporter, yakni Ultras, Singa Mania, dan Sriwijaya Mania. Kehadiran para suporter menjadi simbol bahwa dukungan terhadap Sriwijaya FC masih tetap terjaga meski klub sedang berada dalam masa sulit.

Mohammad David mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar membagikan kaus, melainkan mengirimkan pesan kepada masyarakat bahwa Sriwijaya FC belum berakhir.

“Dalam kegiatan ini hadir tiga kelompok suporter, yaitu Ultras, Singa Mania, dan Sriwijaya Mania. Alhamdulillah, dukungan dari rekan-rekan suporter sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Sriwijaya FC masih sangat besar,” ujar David.

Menurutnya, manajemen juga ingin meluruskan berbagai isu yang menyebut Sriwijaya FC tidak lagi eksis di Sumatera Selatan.

“Kami ingin menepis anggapan bahwa Sriwijaya FC sudah tidak ada lagi di Sumsel. Kami terus berupaya agar klub ini tetap bermarkas di Sumatera Selatan. Memang untuk kompetisi Liga Nusantara kemungkinan pertandingan digelar di Pulau Jawa, tetapi pemusatan latihan akan tetap dilaksanakan di Palembang,” katanya.

David mengakui, hingga kini manajemen masih terus menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak untuk mendapatkan investor yang dapat menopang operasional klub.

Ia berharap kehadiran Ferry Rotinsulu dalam gerakan penyelamatan Sriwijaya FC mampu menjadi magnet yang menggerakkan kepedulian berbagai pihak.

“Kami berharap bergabungnya Ferry Rotinsulu dapat membuka hati para investor di Sumatera Selatan agar bersama-sama menyelamatkan Sriwijaya FC. Klub ini adalah kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan dan sudah seharusnya kita jaga bersama,” ungkapnya.

Sementara itu, Ferry Rotinsulu menilai gerakan penyelamatan Sriwijaya FC merupakan langkah positif untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat terhadap klub yang pernah berjaya di sepak bola nasional.

Menurut mantan penjaga gawang Sriwijaya FC tersebut, dukungan masyarakat dan para pemangku kepentingan, terutama investor, menjadi harapan terbesar agar Laskar Wong Kito dapat kembali bangkit.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa Sriwijaya FC masih ada dan masih memiliki semangat untuk bangkit. Mudah-mudahan gerakan ini juga mengetuk hati para investor agar bersama-sama menyelamatkan klub kebanggaan Sumatera Selatan ini,” ujar Ferry.

Ia optimistis Sriwijaya FC masih memiliki peluang untuk kembali menorehkan prestasi apabila seluruh elemen, mulai dari manajemen, suporter, pemerintah, hingga dunia usaha, bersatu memberikan dukungan.

Bagi David dan seluruh keluarga besar Sriwijaya FC, perjuangan belum berakhir. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka memilih tetap menjaga harapan agar Laskar Wong Kito kembali berdiri tegak dan mengembalikan kejayaannya di sepak bola Indonesia.(Ardilah)