Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Jumat, Warga Rayakan Idulfitri Lebih Awal

Palembang, PalNews – Warga Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Palembang, melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026). Penetapan ini mengacu pada maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari tersebut.

Dengan keputusan ini, Muhammadiyah merayakan Hari Raya Idulfitri lebih awal dibandingkan sebagian umat Islam lainnya yang masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

Penetapan awal Syawal oleh Muhammadiyah didasarkan pada metode hisab melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal dinilai telah memenuhi kriteria, sehingga 1 Syawal ditetapkan jatuh pada Jumat.

Sejak pagi hari, warga Muhammadiyah tampak memadati masjid dan lapangan untuk melaksanakan Salat Idulfitri. Suasana khidmat dan penuh kehangatan terasa saat jamaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan usai menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Di Palembang, salah satu pelaksanaan Salat Idulfitri berlangsung di halaman Kampus Muhammadiyah Palembang. Ibadah tersebut dipimpin oleh Imam yaitu Dr. Antoni, M.H.I., dan berlangsung dengan khusyuk, didukung cuaca yang cerah.

Dalam khutbahnya, Staf Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis, M.Pd., menekankan bahwa ibadah puasa Ramadan tidak hanya membentuk ketakwaan kepada Allah, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Ibadah puasa adalah wujud ketakwaan kepada Allah, namun juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran dalam bekerja, kepedulian terhadap sesama, serta menjaga kebersamaan. Harapannya, setelah Ramadan, kita menjadi pribadi yang lebih baik, damai, dan maju,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap toleransi dalam menyikapi perbedaan penetapan hari raya.
“Perbedaan adalah hal yang biasa. Justru dari Ramadan, kita belajar menciptakan kedamaian dalam diri dan menghargai perbedaan. Toleransi menjadi kunci agar perbedaan tidak menjadi pemecah, melainkan mempererat persaudaraan,” tambahnya.

Sementara itu, sebagian umat Islam di Indonesia diperkirakan akan merayakan Idulfitri pada Sabtu (21/3/2026), mengikuti keputusan pemerintah yang didasarkan pada metode rukyat atau pengamatan hilal secara langsung.

Perbedaan penetapan Idulfitri bukanlah hal baru di Indonesia. Masyarakat pun telah terbiasa menyikapinya dengan bijak, tetap menjaga semangat kebersamaan, persatuan, dan saling menghormati di tengah keberagaman.(Ardilah)