Hadir di UIN Raden Fatah Palembang, Arsjad Rasjid Dorong Indonesia Naik Kelas Jadi Pusat Ekonomi Halal Dunia

PALEMBANG, PalNews – Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin ekonomi halal dunia. Namun, untuk mencapai posisi tersebut dibutuhkan kolaborasi lintas sektor dan penguatan ekosistem yang terintegrasi.

Pesan itu disampaikan pengusaha nasional berdarah Palembang, Arsjad Rasjid, saat memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Senin (8/6/2026) Siang.

Dalam paparannya, Chairman B57+ Asia Pacific Chapter tersebut menegaskan bahwa pembangunan ekosistem ekonomi halal tidak dapat dilakukan secara parsial.

“Membangun ekosistem halal itu seperti membangun rumah. Tidak bisa sendirian. Butuh gotong royong. Dan kita punya modal yang tidak sedikit untuk memimpin,” ujar Arsjad.

Arsjad mengungkapkan, berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, nilai ekonomi halal global telah mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,56 triliun pada 2029.

Besarnya potensi pasar tersebut, menurutnya, harus menjadi peluang strategis bagi Indonesia. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mencapai lebih dari 240 juta jiwa.

Meski demikian, posisi Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) masih berada di peringkat keempat dunia, turun satu tingkat dibanding tahun sebelumnya. Indonesia berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.

“Malaysia ada di peringkat pertama, kita di peringkat keempat. Padahal Indonesia punya populasi Muslim terbesar di dunia. Secara geografis, kita adalah jembatan antara Asia Pasifik dengan negara-negara OKI. Masa kita kalah dengan Malaysia?” kata Arsjad.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Arsjad menjelaskan peran B57+ Asia Pacific Chapter, organisasi yang dipimpinnya. B57+ merupakan bagian dari B57+ Group, sebuah inisiatif strategis yang digagas Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) dan diluncurkan di Istanbul, Turki, pada November 2025.

Inisiatif ini bertujuan menghubungkan pasar di 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dengan negara-negara mitra di luar OKI guna memperkuat perdagangan dan investasi lintas kawasan.

Menurut Arsjad, B57+ Asia Pacific memiliki tiga agenda utama, yakni meningkatkan perdagangan antarnegara anggota OKI melalui jaringan bisnis yang terstruktur, memperkuat arus investasi ke dalam ekosistem halal lintas negara, serta menyusun rekomendasi kebijakan bersama pemerintah agar produk halal lebih mudah diterima di pasar global.

“Yang membedakan B57+ dari inisiatif multilateral lain adalah ukurannya, nilai perdagangan nyata, investasi nyata, dan dampak nyata. Bukan sekadar deklarasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Arsjad menekankan bahwa pengembangan ekonomi halal harus bersifat inklusif dan terbuka bagi semua pihak. Mengacu pada keteladanan Nabi Muhammad SAW melalui Piagam Madinah, ia mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku usaha non-Muslim, dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia.

“Kita membutuhkan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan. Ekosistem halal yang kuat adalah ekosistem yang mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi semua,” ujarnya.

B57+ Business Leaders Network merupakan inisiatif strategis yang digagas Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) untuk memperkuat perdagangan dan investasi di antara 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). B57+ Asia Pacific Chapter menjadi chapter pertama yang dibentuk dengan Indonesia sebagai kantor pusatnya. Organisasi ini dipimpin oleh Arsjad Rasjid.

Sekilas info Arsjad Rasjid adalah pengusaha nasional yang saat ini menjabat sebagai Chairman Indonesian Business Council (IBC) dan Chairman B57+ Asia Pacific Chapter. Ia juga merupakan Presiden Komisaris XL Smart serta Ketua Umum PB PERPANI. Berdarah Palembang, Arsjad aktif mendorong penguatan ekosistem bisnis Indonesia di tingkat regional maupun global. (Ardilah)